
YOGYAKARTA.Setiap hari Sabtu, seluruh pegawai di seluruh lingkungan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota wajib menggunakan bahasa Jawa dalam aktivitas kerja. Ini untuk melestarikan sekaligus wujud penghargaan terhadap nilai-nilai budaya Jawa.
Penggunaan bahasa Jawa ini dikeluarkan melalui Surat Keputusan Gubernur dan berlaku mulai Sabtu (15/8) ini. Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan, selama ini penggunaan bahasa Jawa sebenarnya sudah diberlakukan di lingkungan pemerintah kabupaten/kota, tetapi masing-masing ada perbedaan hari.
"Bantul melakukannya hari Kamis, Kulon Progo, dan Gunung Kidul sama hari Sabtu, Sleman saya lupa mungkin hari Jumat, daripada sendiri-sendiri ya sudah semuanya sepakat, setiap hari Sabtu menggunakan bahasa Jawa," kata Sultan seusai mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden di Gedung DPRD Provinsi DIY, Jumat (14/8).
Menurut Sultan, penggunaan bahasa Jawa ini adalah untuk menghargai dan mempertahankan nilai-nilai kebudayaan jawa. "Masyarakat jawa sudah memiliki tradisi, filosofi, cara berbusana, berbahasa sendiri yang diturunkan dari generasi ke generasi jauh sebelum Indonesia merdeka. Itu yang harus kita pertahankan," katanya.
Sebelumnya Sultan mengatakan, saat ini budaya lokal DIY mulai terdesak dengan semakin berkembangnya budaya asing. "Menurunnya kepedulian masyarakat terhadap budaya kita disebabkan oleh kurang berhasilnya kita melakukan rekayasa sosial kepada masyarakat untuk dapat meghargai warisan budaya dengan nilai yang luhur yang merupakan produk dalam negeri," kata Sultan.
Penggunaan bahasa Jawa ini diutamakan dalam komunikasi lisan. Komunikasi formal secara tertulis tetap menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan komunikasi tertulis non-formal tetap menggunakan bahasa Jawa, misalnya surat memo kepada staf. Rapat-rapat internal juga akan menggunakan bahasa Jawa. Tetapi kalau ada tamu Pemprov ya menggunakan bahasa Indonesia, kata Sekretaris Daerah DIY Tri Harjun Ismaji.
Penggunaan bahasa Jawa di lingkungan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota ini adalah langkah awal. Diharapkan masyarakat luas juga bisa turut berpartisipasi.
Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY Erwin Nizar mengatakan, pemakaian bahasa Jawa patut didukung. Akan tetapi, dalam pemakaiannya harus proporsional dan tidak perlu dipaksakan. Ini misalnya, bila ada pegawai atau tamu yang belum bisa berbahasa Jawa jangan sampai dipaksa berbahasa Jawa.
Produktifitas itik masih kalah dibanding ayam ras petelur. Paling tinggi kemampuan bertelur itik hanyalah 250 butir per ekor per tahun. Itik magelang (itik kalung) malahan hanya sekitar 180 butir per ekor per tahun. Sementara ayam petelur bisa sampai 300 butir. Tetapi untuk keperluan tertentu, telur itik tidak bisa tergantikan oleh telur ayam. Bahkan telur itik biru juga tidak bisa tergantikan oleh telur itik yang berwarna putih. Misalnya untuk keperluan telur asin dan martabak. Untuk dua produk tersebut, mutlak diperlukan telur itik yang berwarna biru. Karenanya, meskipun volume produksinya relatif kecil dibanding telur ayam ras, peran telur itik tetap tidak akan tergusur oleh telur ayam ayam ras. Hingga agroindustri telur itik berkembang sesuai dengan hukum pasar. Profesionalitas pun berjalan. Bahkan kreatifitas juga bermunculan. Misalnya sistem penetasan telur dengan teknologi sekam yang hemat energi. Pemanfaatan sisa-sisa nasi dari warteg (warung tegal) untuk pakan itik dll. Sentra-sentra peternakan itik pun tumbuh di Cirebon, Kuningan, Brebes dan Tegal (itik tegal); Sukabumi, Cianjur, Magelang dan Boyolali (itik magelang); sekitar Mojokerto (itik mojosari); di Bali (itik bali); dan di Kab. Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (itik alabio). Itu tadi merupakan sentra-sentra utama yang hasilnya dipasarkan secara nasional. Selain itu masih ada pula sentra-sentra kecil yang hasil telur maupun dagingnya hanya untuk konsumsi lokal.
Di sentra-sentra itik tersebut, telah tercipta suatu sistem yang mengarah pada spesialisasi. Di Amuntai, Kab. Hulu Sungai Utara, ada peternak yang khusus menghasilkan telur konsumsi, ada yang hanya telur tetas, ada spesialis penetasan, spesialis pembesaran itik betina, itik jantan, bahkan ada yang spesialisasinya membuat kandang, meramu pakan, menyalurkan itik jantan dll. Pola agroindustri seperti itu, sudah merata terdapat di hampir semua sentra itik di Indonesia. Masing-masing jenis itik, memiliki spesifikasi tertentu yang sangat khas. Itik tegal berukuran kecil, posisi tubuh tegak dengan postur langsing, warna bulu cokelat muda cerah. Ukuran telur sedang, warna kulit telur biru cerah. Produktifitas sekitar 200 butir per ekor per tahun. Itik mojosari mirip dengan itik tegal. Bedanya, warna bulu lebih gelap, posisi tubuh lebih menunduk. Ukuran, warna kulit dan produktifitas telur sama dengan itik tegal. Itik magelang merupakan itik "raksasa". Karena ukuran tubuh serta telurnya lebih besar. Posisi tubuh lebih menunduk dari itik mojosari. Warna bulu lebih gelap. Ciri khasnya terdapat gelang warna (kalung) pada lehernya. Hingga kadang-kadang disebut sebagai itik kalung. Selain lebih besar, telur itik magelang juga berwarna biru agak gelap. Produktifitas telur paling tinggi 180 butir per ekor per tahun.
Itik bali rata-rata berwarna somi (cokelat muda). Sebab meskipun variasi warna itik bali sangat beragam, namun yang paling digemari para peternak adalah warna somi. Selain itu masih ada warna putih, hitam, sundihan (cokelat gelap bergaris hitam) dan sikep (warna elang). Ciri khas itik bali adalah adanya jambul pada bulu kepalanya. Hingga kadang-kadang itik bali disebut sebagai itik jambul. Ukuran telurnya lebih besar dibanding itik tegal, namun lebih kecil dari itik magelang. Warna kulit telurnya putih. Produktifitasnya sedikit lebih kecil dibanding itik tegal maupun mojosari. Semua itik tadi, warna kulit kakinya kelabu agak kehitaman. Hanya itik alabiolah yang warna kulit kakinya oranye cerah, mirip itik peking. Warna bulu itik alabio abu-abu berbintik hitam. Ukuran tubuhnya kecil dengan posisi sangat menunduk. Ukuran telurnya paling kecil, dengan bentuk lebih bulat. Warna kulit telur abu-abu. Produktifitasnya bisa sampai 250 butir per ekor per tahun. Itik petelur yang dikembangkan di Inggris adalah khaki chambel yang merupakan silangan itik rouan Perancis, itik liar dan itik jawa (itik tegal). Produktifitas telurnya bisa lebih dari 250 butir per ekor per tahun. Namun telur khaki chambel kurang disenangi karena warna kulitnya putih seperti halnya telur itik bali. Selain itik petelur tersebut, masih ada pula itik manila (entok) serta itik peking yang dipelihara untuk dimanfaatkan bulu serta dagingnya. Bulu itik manila/peking antara lain untuk shuttle cock dan pengisi bantal serta kasur.
Ada dua pola pemeliharan itik di Indonesia. Pertama pola tradisional (konvensional) dengan cara digembalakan. Kedua cara modern (intensif) dengan dikandangkan. Di Jawa, masih banyak pemeliharaan itik dengan pola tradisional. Satu kawanan itik berjumlah minimal 200 ekor dengan dua penggembala. Kawanan itik ini sama sekali tidak pernah "pulang" ke rumah pemiliknya. Mereka mengembara dari satu persawahan ke persawahan lain, sesuai dengan musim panen. Pada musim panen demikian, produksi telur itik tegal dan mojosari bisa mencapai 80% dari total populasi. Paling sedikit 60%. Sebab seluruh kebutuhan nutrisi itik tercukupi dari lahan penggembalaan. Karbohidrat dan protein nabati, tercukupi dari sisa-sisa padi yang rontok sehabis dipanen. Protein hewani akan tercukupi dari siput, anak kodok, cacing, yuyu (kepiting sawah) dll. Selain itu di sawah tersebut juga terdapat gulma seperti genjer, semanggi, bengok dll. yang akan memenuhi kebutuhan serat kasar, vitamin dan mineral bagi itik. Kualitas telur itik gembalaan luarbiasa baik. Kulit telurnya sangat tebal dan kuat, berwarna biru cerah kehijauan. Warna kuning telurnya benar-benar kuning mengarah ke jingga. Para produsen telur asin kualitas baik akan selalu memilih telur itik gembalaan. Demikian pula halnya dengan para pembibit itik (pengusaha penetasan). Sebab daya tetas telur itik gembalaan rata-rata mencapai 80%. Para pedagang martabak, malahan mengharuskan bahan baku dari telur itik magelang hasil gembalaan. Sebab selain berukuran besar, warna kulit telur benar-benar biru tajam hinga sangat menarik.
Itik gembalaan selalu diberi pejantan. Tiap 100 ekor terdiri dari 90 betina dan 10 jantan. Karenanya telur itik gembalaan akan selalu terbuahi (fertil), hingga paling baik untuk ditetaskan. Itik-itik ini benar-benar tidak pernah pulang. Kalau siang mereka merada di sawah yang habis dipanen, malam harinya mereka juga tidur di pinggiran sawah tersebut. Agar itik-itik itu tidak kabur, lokasi tidur tersebut dibatasi dengan pagar sederhana dari anyaman bambu 50 cm. Pagar ini didirikan dengan patok-patok bambu yang bisa dicabut dan dipasang. Pagarnya sendiri bisa digulung dan diangkut ke mana-mana. Apabila hujan, para penggembala sudah siap dengan tenda-tenda plastik (bivak) yang dikerudungkan di atas pagar tersebut. Penggembalanya sendiri akan berjaga-jaga dan tidur bergantian di dekat tempat itik itu. Paginya, itik akan bertelur di sawah dan segera dikumpulkan oleh penggembala untuk dijual ke pasar terdekat. atau didatangi tengkulak. Apabila lokasi penggembalaan itu sudah habis cadangan pakannya, itik berikut penggembalanya akan pindah ke tempat lain. Demikian seterusnya sampai itik tersebut harus diafkir untuk digemukkan dan dipotong.
Pada pemeliharaan dengan sistem kandang, itik sama sekali tidak pernah pergi-pergi. Kandang seluas 5 X 10 m. misalnya, akan mampu menampung 100 ekor itik. Sepertiga atau seperempat dari luas kandang tersebut diberi atap untuk tidur dan bertelur itik. Pakan itik yang dipelihara secara intensif ini sangat bervariasi. Paling ideal itik diberi pakan ayam ras petelur yang saat ini harganya sudah sekitar Rp 2.500,- per kg. Satu kg. pakan cukup untuk memberi ransum 10 ekor itik dewasa. Hingga biaya pakan per ekor per hari jatuhnya Rp 250,- Harga 1 butir telur antara Rp 600,- sd. Rp 800,- di tingkat peternak. Harga itik dara siap telur sekitar Rp 35.000,- per ekor, dengan masa bertelur 1,5 tahun. Berarti penyusutan per ekor per hari Rp 64,- Masih harus diperhitungkan pula biaya penyusutan kandang dan peralatan, upah karyawan, rasio itik bertelur dan tidak bertelur dsb. Hasil telur yang ada misalnya 80% dari 90 ekor (betina) = 72 ekor. Dengan harga Rp 800, maka pendapatan kotor per hari dari 100 ekor itik Rp 57.600,- Pendapatan itu akan digunakan untuk pakan bagi 100 ekor itik X 250,- = Rp 25.000,- Sisanya untuk biaya penyusutan induk, kandang, upah buruh dll. hingga akan tersisa pendapatan bersih. Apabila penggunaan pakan toko kurang menguntungkan, maka bisa dicari pakan alternatif. Misalnya ampas tahu, dedak, nasi kering (eks warteg), kepala udang dll.
Beda dengan ayam ras maupun kampung (petelur), itik akan mengalami rontok bulu (laring) setelah satu periode, sekitar 1 sd. 1,5 tahun. Pada saat rontok bulu ini, produksi akan berhenti total selama 3 bulan. Biasanya para peternak yang berpengalaman, tidak akan menunggu sampai periode rontok bulu ini datang secara alamiah. Mereka akan memaksa "puasa" itik mereka selama 3 hari, dengan hanya diberi minum saja. Dengan dipuasakan demikian, itik akan langsung masuk periode rontok bulu. Apabila dalam satu angkatan, peternak memiliki 300 ekor itik, maka masa laring ini akan dibuat bertahap. Pertama akan dirontokkan 100 ekor itik. Sementara yang 200 tetap produktif. Setelah 3 bulan, kelompok rontok bulu I sudah akan mulai produksi kembali. Pada saat itulah kelompok II sebanyak 100 ekor dipuasakan hingga masuk periode rontok bulu. Hingga tetap ada 200 ekor itik yang berproduksi. Pada saat kelompok rontok bulu II mulai produktif, kelompok III dirontokkan. Dengan melakukan perontokan secara bertahap demikian, maka dari 300 ekor itik tersebut, hanya 100 ekor yang tidak berproduksi. Itik yang sudah mengalami laring sekali, masih bisa dipelihara sebagai petelur selama satu periode lagi. Pada saat menjelang laring II, itik digemukkan untuk diafkir dan dipotong. Ada pula peternak yang tetap mempertahankan pemeliharaan sampai laring III, namun produktifitasnya sudah akan sangat menurun.Sebagai contoh di Jawa Tengah dikenal ada 2 jenis itik “bebek” yakni itik Tegal (Anas javanica) yang banyak dijumpai di daerah Tegal, Brebes dan daerah sekitarnya (Pantura) dan itik Magelang di daerah Magelang dan sekitarnya.
Sebagai bagian dari jenis unggas lokal, itik Tegal dan itik Magelang ini sebenarnya merupakan komoditi ternak unggas yang potensial sebagai penghasil telur dan daging (dwiguna).
Bayangkan saja, sumbangan ternak itik secara umum terhadap produksi telur nasional menurut Rusfidra dari Fakultas Peternakan Andalas Padang cukup signifikan, yakni sebagai penyumbang kedua terbesar setelah ayam ras. Ditinjau dari tingginya angka permintaan produk telur-telur itik ini, tidak mengherankan jika Brebes sebagai salah satu sentra peternakan itik di Jawa Tengah masih kekurangan stok telur asin.
MASIH TERKENDALA
Hingga kini, usaha peternakan itik di Jawa Tengah khususnya masih terkendala beberapa permasalahan. Diantaranya usaha-usaha peternakan itik yang ada sekarang masih didominasi peternak skala kecil yang bersifat tradisional ekstensif (diumbar), kecilnya modal, sulitnya mencari bibit DOD (Day Old Duck) unggul serta pengetahuan peternak yang masih rendah. Tidak mengherankan jika produktivitas ternak itik di pedasaan saat ini masih rendah dan jauh dari harapan.
Pada itik Magelang misalnya. Secara fenotip dulunya mempunyai kemampuan memproduksi telur yang baik, bahkan beberapa literatur mengatakan kemampuan produksi telurnya dapat mencapai 250–300 butir/ekor/tahun. Namun pada kenyataannya, menurut hasil penelitian Mahfudz dkk (2005) dari Laboratorium Ilmu Ternak Unggas FP Undip, sekarang ini sangat sulit untuk mendapatkan itik yang mampu bertelur diatas 150 butir/ekor/tahun.
Hal ini akibat dari sistem perkawinan yang dilakukan oleh peternak masih secara alami, tidak adanya seleksi calon induk-pejantan unggul dan belum adanya program pembibitan (breeding) yang baik. Sehingga lama kelamaan kualitas itik Magelang baik secara genetik maupun fenotipe diduga menurun.
Disisi lain, sistem pemeliharaan itik secara tradisional ekstensif memiliki banyak kekurangan. Diperlukannya lahan yang luas, itik yang diumbar berpotensi mengganggu tanaman pertanian yang baru ditanam, membutuhkan tenaga kerja untuk pengembalaan “sontoloyo”, serta tingginya resiko itik terkontaminasi pestisida akibat petani yang sering menggunakannya untuk membasmi hama.
Upaya Pengembangan
Tujuan utama dari pemeliharaan itik adalah menghasilkan telur bagi itik betina produktif dan daging untuk itik jantan dan betina afkir.
Produksi telur itik kadang bervariasi, antara lain dipengaruhi faktor umur (masa produksi), genetik (breeding), pakan dan sistem pemeliharaan (manajemen). Sudah saatnya sistem pemeliharaan yang selama ini bersifat tradisional ekstensif diganti dengan semi atau intensif.
Selain itu, ada beberapa upaya alternatif pengembangan terpadu peternakan itik rakyat skala kecil sampai menengah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan populasi itik yang ada sekarang.
Pertama, model penyediaan bibit itik DOD (Day old Duck). Pada model ini yang menjadi sasaran adalah daerah sentra bibit itik agar mampu menyediakan bibit itik yang dibutuhkan peternakan skala kecil sampai menengah secara kontinyu. Sebagai penyedia bibit unggul, model ini memerlukan adanya sistem seleksi induk sebagai calon tetua dan inseminasi buatan (IB) untuk sarana perkawinan yang mampu mempercepat penyediaan bibit.
Kedua, model pelestarian plasma nutfah. Dalam model ini lebih diarahkan pada pelestarian ternak itik-itik berbasis lokal asli “murni” khas daerah asal masing-masing. Seperti itik Magelang dan itik Tegal asli yang nantinya sebagai sumber plasma nutfah unggulan propinsi Jawa Tengah, itik Mojosari di Jawa Timur, dan lain sebagainya.
Ketiga, model pengembangan sistem bagi hasil. Pada jenis model ini, peternak itik hanya menyediakan kandang dan tenaga kerjanya saja untuk memelihara itik dari pemilik modal. Sistem ini memerlukan kesepakatan yang saling menguntungkan antara peternak dengan pemilik modal.
Keempat, model Bapak dan Anak Angkat. Para peternak yang menjadi binaan nantinya meliputi peternak kecil dan menengah. Sedangkan sebagai bapak angkat diharapkan adalah para pengusaha peternakan, pengusaha Poultry Shop, BMUN, dan lain sebagainya. Bapak angkat dalam hal ini tidak hanya memberikan bantuan dana, tetapi juga aspek manajemen pengelolaan dan kepastian pemasaran produk peternakan itik yang dihasilkan peternak plasma nantinya.
Model-model tersebut saling terkait dan sangat mendukung tujuan pembangunan peternakan yakni meningkatkan produksi dan pendapatan peternak dalam rangka mewujudkan industrilisasi peternakan rakyat. Untuk menjamin suksesnya aplikasi model ini, perlu dilakukan penyuluhan intensif dan pembinaan secara terus menerus sampai terciptanya kemantapan usaha. Bimbingan dan pembinaan dapat dilakukan oleh perguruan tinggi atau instansi terkait melalui pembentukan kelompok-kelompok Tani Ternak Itik (KTTI).
Melalui upaya-upaya pengembangan terpadu ini, diharapkan para peternak itik ini nantinya semakin termotivasi, cepat berkembang, dan mampu meningkatkan taraf perekonomian keluarga. Dengan demikian, upaya pengembangan itik (bebek) berbasis lokal seperti itik Tegal, itik Magelang dan itik-itik lokal lainnya di Indonesia yang selama ini masih belum optimal bisa segera dioptimalkan.
| Jum'at, 7 Agustus 2009 |
Oleh karena itu usaha perunggasan dikategorikan sebagai usaha beresiko tinggi (high risk). Pelaku usaha perunggasan terutama pada ayam broiler sebagian besar adalah perusahaan swasta, sehingga dalam perkembangannya tidak diperlukan lagi campur tangan pemerintah akan tetapi pemerintah berkewajiban membantu menjaga keseimbangan suplai demand sehingga tidak terjadi gejolak suplai maupun demand.
Beberapa permasalahan yang timbul pada triwulan ke dua tahun 2009 ini antara lain adalah kenaikan harga pakan dan biaya produksi belum diikuti dengan kenaikan harga ayam hidup. Hal ini tentunya terkait dengan daya beli masyarakat yang sangat tergantung terhadap pendapatan. Realita yang dapat kita temui adalah daya beli masyarakat terhadap produk perunggasan dalam pemenuhan gizi (protein hewani) masih rendah bahkan kalah dengan gaya hidup masyarakat yang sangat konsumtif. Sebenarnya dalam hal peningkatan daya beli masyarakat terhadap produk perunggasan tidak hanya dengan menekan harga produk tersebut akan tetapi juga perlunya peningkatan kampanye untuk konsumsi produk perunggasan. Hal ini dipandang perlu untuk dilakukan oleh produsen perunggasan dalam meningkatkan daya serap daging dan telur ayam, yang merupakan sumber gizi paling terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan kampanye yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi yang bersumber dari protein hewani.
Sementara harga DOC FS yang cenderung stabil di harga tinggi juga juga tidak diikuti dengan kenaikan harga ayam hidup. Sementara tingginya harga DOC FS tidak mengisyaratkan kurangnya suplai DOC FS yang terlihat dengan tidak adanya kesulitan para peternak untuk memperoleh DOC.
Pada beberapa pembibit ayam ras yang melakukan budidaya, tetapi tidak mempunyai Rumah Potong Ayam (RPA) atau pasar tersendiri sehingga terjadi penumpukan produk di pasar becek yang merupakan tempat penjualan para peternak kecil. Arahan Direktur Jenderal Peternakan, pada saat pertemuan dengan assosiasi peternak ayam ras adalah agar usaha di bidang perunggasan dapat berjalan terus, diharapkan semua pelaku dapat menerapkan strategi pemasaran yang baik sehingga permasalahan suplai demand yang selalu terjadi setiap tahun dapat dicari solusinya. Para peternak tidak hanya menghasilkan ayam hidup, akan tetapi secara berkelompok membentuk pasar daging ayam beku dengan penyediaan cold storage kelompok.
Selain itu, terkonsentrasinya pasar penjualan produk ayam ke kota besar, sehingga akan menghancurkan harga pasar. Kondisi pasar yang terjadi seperti itu merupakan kondisi alamiah dimana semua produsen akan mengejar dimana yang demandnya tinggi dengan harga yang cukup tinggi. Untuk itu diharapkan untuk kebaikan semua, para peternak tidak terlalu mengejar keuntungan yang tinggi di suatu saat dan tempat. Dengan tidak mengambil keuntungan terlalu besar, tetapi tetap mempertahankan demand setiap saat sehingga usaha terus berjalan.
Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut diatas para pelaku usaha perunggasan satu sama lain berkomitmen untuk melaksanakan usaha dengan saling menjaga kelanjutan usaha masing-masing sehingga diharapkan masalah tersebut tidak akan terulang kembali di masa mendatang.
Potensi produksi broiler
Kondisi perunggasan tidak terlepas dari berapa suplai DOC FS yang diproduksi oleh para pembibit. Gambaran potensi produksi DOC FS pada triwulan kedua ini adalah produksi bibit ayam ras (DOC FS) broiler pada triwulan kedua tahun 2009 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 terjadi peningkatan yaitu dari produksi DOC FS sebanyak 24.1 juta ekor per minggu menjadi 28.2 juta ekor per minggu atau meningkat sebesar 17 %. Peningkatan produksi DOC FS broiler pada triwulan kedua tahun 2009, diperkirakan merupakan sikap optimis para pengusaha yang terlihat dari produksi DOC FS broiler yang terus meningkat mulai bulan April sampai dengan Juni 2009. Momen liburan anak sekolah dan meningkatkan permintaan di bulan Juni sampai dengan Juli akibat banyaknya orang yang mengadakan pesta, mendorong para pengusaha untuk meningkatkan produksi DOC FS dengan harapan demand akan meningkat.
Pada Pemasukan (Impor) PS, perkembangan impor PS broiler pada triwulan kedua tahun 2009 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 terjadi penurunan pemasukan dari 76.000 ekor menjadi 52.620 ekor atau terjadi penurunan sebesar 30,76 %. Akan tetapi apabila dibandingkan dengan triwulan pertama tahun 2009 terjadi kenaikan sebesar 55% dari angka 34.000 ekor menjadi 52.620 ekor.
Sementara pada perkembangan Pemasukan (Impor) bibit ayam ras untuk impor GPS adalah perkembangan pemasukan/impor DOC GPS broiler pada triwulan kedua tahun 2009 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 terjadi penurunan pemasukan dari 68.682 ekor menjadi 54.769 ekor atau terjadi penurunan sebesar 20 %.
Menurunnya jumlah impor GPS ini diperkirakan karena sikap pembibit yang berhati-hati melihat kondisi saat ini, antara lain harga pakan yang tidak signifikan dengan kenaikan harga produk perunggasan. Sementara situasi penjualan daging ayam belum menunjukkan adanya harapan untuk meningkat, sehingga demand terhadap DOC FS broiler belum bisa dimaksimalkan.
Potensi produksi layer
Perkembangan impor DOC GPS layer pada triwulan kedua tahun 2009 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 terjadi peningkatan pemasukan dari 6.950 ekor menjadi 13.700 ekor atau terjadi peningkatan sebesar 97 %. Peningkatan ini diperkirakan terkait dengan masa replacement ayam layer, dan sikap optimis para peternak layer karena harga jual telur yang cenderung stabil.
Produksi bibit ayam ras (DOC FS) layer pada triwulan kedua tahun 2009 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 tercatat produksi DOC FS pada triwulan II tahun 2008 sama dengan produksi DOC FS pada triwulan II tahun 2009 sejumlah 1,55 juta ekor/minggu. Kondisi ini diperkirakan karena sikap keragu-raguan dari peternak untuk meningkatkan demand terhadap DOC FS layer membuat para pembibit masih menahan produksinya.
Pada triwulan kedua tahun 2009 tercatat pemasukan PS layer sebesar 51.660 ekor, sedangkan pada triwulan kedua tahun 2008 tidak tercatat adanya pemasukan PS layer. Sikap optimis dari para pembibit PS layer terlihat disini, hal ini berbeda dengan demand terhadap DOC FS layer yang meningkat tidak signifikan. Diperkirakan para pembibit lebih melihat akan adanya peningkatan demand pada enam bulan kedepan terhadap DOC FS layer sehingga mereka meningkatkan pemasukan DOC PS layer. Apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 dan triwulan sebelumnya tahun 2009 yang menunjukkan adanya peningkatan, pada triwulan ini para pembibit lebih optimis.
1. Dinas Peternakan Prop. Nangroe Aceh Darusalam
Jl. Sultan Iskandar Muda No. 3, Kotak Pos 87, Banda Aceh 23001
Telp. 0651 - 44338, 41180; Fax. 0651 - 44340
2. Dinas Peternakan Prop. Sumatera Utara
Jl. Jend. Gatot Subroto Km. 7 No. 255, Medan 20127
Telp. 061 - 8461436
3. Dinas Peternakan Prop. Sumatera Barat
Jl. Rasuna Said No. 68, Kotak Pos 105, Padang 25129
Telp. 0751 - 28077
4. Dinas Peternakan Prop. Jambi
Jl. Kol. Abun Yani Sipin Ujung, PO Box 74, Jambi 36129
Telp. 0741 - 64585, 63417
5. Dinas Peternakan Prop. Riau
Jl. Paimura No. 2, Pekanbaru - Riau 28131
Telp. 0761 - 44342-41; Fax. 0761 - 44342
6. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prop. Bengkulu
Jl. Musium, Padang Harapan No. 4, Bengkulu 38224
Telp. 0736 - 21394; Fax. 0736 - 21431
7. Dinas Peternakan Prop. Sumatera Selatan
Jl. Kapten Anwar Sastro No. 1640, PO Box 1138, Palembang 30129
Telp. 0711 - 313444
8. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prop. Lampung
Jl. Teuku Umar No. 52, Labuan Ratu, Kotak Pos 54, Tanjung Karang
Telp. 0721 - 702189
9. Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta
Jl. Gunung Sahari Raya 11, Jakarta Pusat
Telp. 021 - 6284935, 6393771; Fax. 021 - 6284935
10. Dinas Peternakan Prop. Jawa Barat
Jl. Ir. H. Juanda No. 358 (Dago), Bandung 40161
Telp. 022 - 2501151
11. Dinas Peternakan Prop. Jawa Tengah
Jl. Gatot Subroto, Tarubudoyo, Kotak Pos 143, Ungaran, Semarang 50501
Telp. 024 - 6921023, 6221397
12. Sub. Dinas Peternakan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Gondosuli No. 2, Yogyakarta 55165
Telp. 0274 - 586516
13. Dinas Peternakan Prop. Jawa Timur
Jl. Jend. A. Yani 202, Surabaya 29131
Telp. 031 - 8292545, 8285126; Fax. 031 - 8291853
14. Dinas Peternakan Prop. Bali
Jl. Angkosa No. 14, Denpasar 80233
Telp. 0361 - 224184, 225368
15. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prop. Kalimantan Barat
Jl. Adi Sucipto No. 40, Pontianak
16. Dinas Kesehatan Prop. Kalimantan Tengah
Jl. Wlliem Asno No. 22, Palangkaraya
Telp. 0536 - 21293; Fax. 0536 - 27613
17. Dinas Peternakan Prop. Kalimantan Selatan
Jl. Jend. Sudirman No. 3, Banjarbaru 70711
Telp. 0511 - 772044; Fax. 0511 - 772844
18. Dinas Peternakan Prop. Kalimantan Timur
Jl. Bayangkara No. 54, Kotak Pos 1053, Samarinda PO Box 1053
Telp. 0541 - 743921; Fax. 0541 - 736228
19. Dinas Pertanian, Peternakan Prop. Sulawesi Utara
Jl. Flamboyan No. 12
Komplek. Pertanian Kallasey 95013, Kotak Pos 1461 Manado, Sulawesi Utara
Telp. 0431 - 821178
20. Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perternakan Prop. Sulawesi Tengah
Jl. R.A. Kartini No. 31, Palu 94112, Sulawesi Tengah
Telp. 0451 - 421460; Fax. 0451 - 452580
21. Sub Dinas Peternakan Prop. Sulawesi Tenggara
Jl. Pertanian No. 5, PO Box 68, Kendari 93111
Telp. 0401 - 321404; Fax. 0401 - 322735
22. Dinas Peternakan Prop. Sulawesi Selatan
Jl. Bajiminasa No. 12 Sulsel, Ujung Pandang 90126
Telp. 0411 - 873770; Fax. 0411 - 855954
23. Dinas Peternakan Prop. Nusa Tenggara Barat
Jl. Udayana No. 5, Kotak Pos 1016, PO Box 17, Mataram 83125
Telp. 0370 - 621862, 635213
24. Dinas Peternakan Prop. Nusa Tenggara Timur
Jl. Veteran Kelapa Lima, Kotak Pos 140, Kupang
Telp. 0380 - 825250; Fax. 0380 - 833060
25. Dinas Peternakan, Ketahanan Pangan Prop. Gorontalo
Jl. Andalas Gorontalo
Telp. 0435 - 831728, 823532

Bagaimana memulai bisnis beternak mentok ini?
Apakah sulit penanganannya?
Kenapa disebut double bisnis?
Sebelum saya menjawab semua pertanyaan tadi saya ingin mengundang para ahli ternak yang berhubungan dengan topic saya kali ini untuk menyumbakan sedikit ilmunya demi untuk melengkapi informasi yang saya tulis ini. Mengingat keterbatasan dalam pengetahuan saya dalam hal beternak yang satu ini harap mengerti ya semua. Kalau begitu mari kita mulai menjawab satu persatu.
Sebelumnya yang anda harus persiapkan adalah kandang. Mengenai kapasitas kandang hitungaannya begini. Kandang yang luasnya per 1m2 ideal nya bisa ditempati sekitar 5 ekor. Maka jika anda ingin beternak 100 ekor kandang yang harus dipersiapkan adalah 20 m2. Hal ini merupakan pengetahuan dasar. Setelah itu anda bisa menyipkan dalam kandang itu perlengkapanya seperti tempat makan dll. Dan juga perlu dipersiapan lagi tempat sarang yang nyaman dari jerami atau sejenisnya.
Penanganannya tidaklah sesulit jika kita beternak ayam. Hewan jenis mentok ini sangat jarang terserang penyakit. Yah kadang-kadang saja bisa terkena penyakit. Jika anda tahu rahasianya bisnis ini sebenarnya bisa sangat bagus kedepannya. Karena beberapa sector bisnis bisa sekaligus dijalankan. Mari kita ulas di bawah.
Kenapa mempunyai keuntungan ganda? Yah jawabannya mudah sekali. Mentok ini kalau produktif bisa dijual beberapa itemnya. Dan anda bisa mendapatkan hasil penjualan dari 4 segi berikut: telur, bulu, anak mentok, dan daging. Ke tiga item tersebut bisa anda jual ke pedagang. Lumayan bukan? Anda beternak satu jenis hewan bisa mendapatkan 4 sumber pendapatan.
Mari kita teruskan kenapa bisa sekaligus 4 sumber tadi bisa anda jalankan. Yang pertama, telur. Sudah jelas siapa saja membutuhkan telur. Dan yang kedua, bulu. Bulu-bulu yang putih dan bagus untuk bahan dasar pembuatan sutlekok(untuk badminton). Jadi bulu ini bisa dijual juga. Yang ketiga, anak entok. Orang-orang tertentu suka membeli anaknya untuk dibesarkan. Karena peternak tertentu, focus usahanya untuk pembesarannya saja. Dan yang terakhir bisa dijual adalah dagingnya. Harga dagingnya kurang lebih seperti daging ayam. Bagaimana para pembaca sekalian, apakah ada yang tertarik bisnis ini. Kalau saya tinggal didesa saya akan coba deh bisnis ini, karena banyak hal yang bisa dijual. Jadi tidak perlu lagi deh merantau ke kota. Lagian peluang untuk berkembangnya besar sekali lho.
Umumnya usaha peternakan itik ditujukan untuk bebek petelur. Namun peluang bebek pedaging juga bisa diambil dari bebek jantan atau bebek betina yang sudah lewat masa produksinya. Selain itu bisa juga pebisnis mengambil bagian pembibitan ternak bebek sebagai fokus usaha.
Namun sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri dengan pemahaman tentang perkandangan, bibit unggul, pakan ternak, pengelolaan dan dan pemasaran hasil. Misalnya bagaimana pemeliharaan anak bebek (5-8 minggu), pemeliharaan bebek Dara (umur 8-20 minggu ke atas) dan pemeliharaan bebek petelur (umur 20 minggu ke atas).
Masa produksi telur yang ideal adalah selama 1 tahun. Produksi telur rata-rata bebek lokal berkisar antara 200-300 butir per tahun dengan berat rata-rata 70 gram. Bahkan, bebek alabio memiliki produktivitas tinggi di atas 250 butir per tahun dengan masa produksi telur hingga 68 minggu.
Usaha peternakan itik di Indonesia telah lama dikenal masyarakat. Agar usaha ini dapat memberikan keuntungan yang optimal bagi pemiliknya
maka perlu diperhatikan bebrapa hal yang menyangkut Manajemen pemeliharaan ternak itik, antara lain :
1. Seleksi Bibit
Bibit itik di Indonesia dibagi dalam dua kelomok yaitu :
a. Itik Lokal
1. Itik Tegal (Tegal).
Ciri-ciri : warna bulu putih polos sampai coklat hitam, warna paruh dan kaki kuning atau hitam.
2. Itik Mojosari (Mojosari Jawa Timur).
Ciri-ciri : warna bulu coklat muda sampai coklat tua, warna paruh hitam dan kaki berwarna hitam.
3. Itik Alabio (Amuntai Kalimantan Selatan).
Ciri-ciri : badan lebih besar dibandingkan dengan itik Tegal.
4. Itik Asahan dikembangkan di Tanjung Balai, Sumatera Utara.
b. Itik Persilangan
2. Pakan
a. Jenis Pakan : jagung, dedak padi, bungkil kedelai, bungkil kelapa dll.
b. Pemberian Pakan :
- Umur 1 - 2 minggu 60 gr/ekor/hari.
- Umur 3 - 4 minggu 80 gr/ekor/hari.
- Umur 5 - 9 minggu 100 gr/ekor/hari.
- Umur 10 minggu 150-180gr/ekor/hari.
3. Perkandangan
a. Lokasi Kandang
- Jauh dari keramaian.
- Ada atau dekat dengan sumber air.
- Tidak terlalu dekat dengan rumah.
- Mudah dalam pengawasan.
b. Bahan kandang bisa terbuat dari kerangka
kayu atau bambu, atap genteng dan
lantainya pasir atau kapur.
c. Daya tampung untuk 100 ekor itik :
- Umur 1 hari - 2 minggu 1 -2 m.
- Umur 1 - 2 minggu 2 - 4 m.
- Umur 2 - 4 minggu 4 - 6 m.
- Umur 4 - 6 minggu 6 - 8 m.
- Umur 6 - 8 minggu 8 - 10 m.
Itik dara sampai umur 6 bulan 5 - 10 ekor/m.
4. Tatalaksana Pemeliharaan
a. Secara ekstensif yaitu pemeliharaan yang berpindah-pindah.
b. Secara intensif yaitu secara terusmenerus dikandangkan seperti ayam ras.
c. Secara semi intensif yaitu dipelihara di kandang yanga ada halaman berpagar. Perbandungan jantan dan betina (sex ratio) adalah 1 : 10 dan dipilih ternak itik yang berproduksi tinggi.
5. Kesehatan
a. Penyakit Berak Kapur.
Penyebab : Bakteri Salmonella Pullorum.
Tanda-tanda : Berak putih, lengket seperti pasta.
Pencegahan: Kebersihan kandang, makanan,minuman, vaksinasi, dan itik yang sakit dipisahkan.
b. Penyakit Cacing.
Penyebab : Berbagai jenis cacing.
Tanda-tanda :Nafsu makan kurang, kadang-kadang mencret, bulu kusam, kurus, dan produksi telur menurun.
Pencegahan :Kandang harus bersih, kering tidak lembab, makanan dan minuman harus bersih dan sanitasi kandang.
c. Lumpuh.
Penyebab : Kekurangan vitamin B.
Tanda-tanda :Kaki bengkak dibagian persendian, jalan pincang dan lumpuh, kelihatan ngantuk, kadang-kadang keluar
air mata berlebihan.
Pencegahan : Pemberian sayuran / hijauan dalam bentuk segar setiap hari.
6. Pasca Panen
a.Telur itik dapat diolah menjadi telur asin,telur pindang, dll.
b.Bebek dapat diolah menjadi bebek panggang dll
c. Bulu dapat diolah menjadi kerajinan tangan
d. Tinja/kotoran itik dapat menjadi pupuk.
Penetas Telur Sederhana
Penetas telur ini pernah saya buat sekitar 18 tahun yg lalu. Dengan modal sepasang ayam kampung (1 jago dan 1 betina), dalam jangka waktu 2 bulan jumlah ayam menjadi 40 ekor. Jumlah akan semakin berlipat bila anak ayam betina sudah dapat bertelur juga (usia 3-4 bln). Bisa dibayangkan, dalam jangka waktu 6 bulan jumlahnya bisa menjadi ratusan (dengan asumsi menghasilkan minimal 20 telur/ bulan). Rata2 ayam kampung menghasilkan 8-14 butir per musim bertelur.
Triknya adalah telur2nya kita tetaskan sendiri, sehingga sang induk, setelah istirahat seminggu, kita kawinkan kembali, akan bertelur lagi. Sedikit banyaknya ayam yg dihasilkan tergantung dari jumlah telur yg dihasilkan sang induk.
Harus diingat bahwa telur yang tidak dibuahi oleh sang jago tidak akan menghasilkan apa2. Walaupun betinanya adalah petelur, tapi bertelurnya karena hasil rangsangan makanannya. Entah kalau anda adalah ahli rekayasa genetik, itu lain soal.
Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah ketekunan dan keikhlasan anda membolak balikkan telur 4-6 jam sekali selama 21 hari. Bila tidak sanggup, lebih baik jangan dilakukan.
Bahan inkubator:
- Triplex 6mm uk P: 40 cm L:30 T: 35 cm (ukuran tidak mutlak, atau menurut selera).
- Fitting lampu, bohlam 40w [atau menggunakan beberapa untai lampu natal (20 lampu di seri/untai, karena bohlammya 12v)]. Yang penting dapat memanaskan box hingga 37 derajat.
- Elektrik minifan ex komputer, trafo 9-12vct 0.5A, 2 bh diode in4001. Gunanya untuk meratakan sirkulasi panas didalam box. Bila dg 12v terlalu kencang, pakailah yg 9v.
- Busa/spon, atau bahan yg mencegah panas keluar dari box
- Termometer ruangan. Harganya sekitar Rp 15.000 an (dahulu, entah sekarang)
- Sterofoam (tempat telur) tebal 10mm. Lubangi ¼ dari diameter telur, yang penting telur dpt berdiri tegak. Banyaknya lubang terserah anda, tapi minimal tersedia 15 lubang.
- wadah air. Bisa kaleng atau ex botol plastik air mineral atau mangkuk kecil. Agar udara selalu lembab.
- Solder (untuk membentuk lubang tempat telur berdiri). Atau kalau rajin boleh pakai cutter.
- Lem aibon. Gunanya untuk merekatkan busa/spon kedinding dalam box.
- Bila mulai bertelur, jangan diambil dulu. Biarkan sampai si betina terbiasa dengan tempat eramannya. Setelah terdapat beberapa telur ambillah, tapi sisakan satu atau dua butir, agar si betina tidak bingung. Khusus untuk betina yang baru pertama kali bertelur, telur perdananya (disebut juga sebagai telur ayam dara, cirinya masih terdapat darah) lebih baik untuk dikonsumsi saja (atau dijual lebih mahal dari yang lain, karena (katanya) banyak khasiatnya. Entah untuk panglaris, tolak bala, atau pengobatan). Bila sudah tidak lagi bertelur barulah ambil semuanya.
- Sebelum telur dimasukkan kedalam inkubator bersihkan terlebih dahulu dari kotoran2 dengan menggunakan lap yang dibasahi air hangat.
- Pastikan suhu inkubator stabil pada 36-37 derajat celcius berapapun banyaknya telur yang ada. Jika lebih maka bukalah (dengan menggeser) ventilasi yang ada diatas box sampai suhu kembali stabil.
- Balikkan telur 180 derajat setiap 4-6 jam sekali. Lakukan hingga mendekati menetas (antara 19 s/d 21 hari).
- Air yang ada didalam fungsinya untuk melembabkan. Pastikan selalu terisi.
- Cek kondisi telur dengan meneropongnya diatas lampu senter/bohlam 5w. Bila sampai 7 hari telur tidak ada titik hitam yang bergerak, maka telur ini gagal. Singkirkan saja. Titik hitam ini adalah embrionya. Makin lama makin membesar, bergerak kesana kemari. Bila anda tertarik dengan apa yang terjadi pada proses sebuah kelahiran, maka ini adalah cara mudah untuk mengetahui tahapan2 bagaimana sebuah makhluk tercipta. Luar biasa!! Oleh sebab itu ingatlah selalu asal manusia itu darimana (dari setetes air, lalu menjadi segumpal darah, lalu tumbuh tulang belulang, hingga akhirnya menjadi sempurna). Jangan mentang2 sudah berhasil/sukses/berkuasa lalu menjadi lupa diri.
- Bila ada yang menetas, pindahkan ke kandang yang terpisah, agar telur yang ada tidak menjadi mainannya (alias dipatuki). Adakalanya anak ayam kesulitan memecahkan kulit telurnya (mungkin sungsang kalau diibaratkan manusia), maka tugas andalah membantu memecahkan cangkangnya sedikit demi sedikit (jangan sekaligus supaya anak ayam tidak shock).
-Anak ayam yang sudah menetas dan terpisah dikandang tersendiri secara naluri akan berperilaku seperti ayam pada umumnya, yaitu mematuk-matuk. Maka sediakanlah makanannya; bisa diwadah atau disebar disekitarnya. Jangan lupa juga untuk disediakan wadah air minum. Pada saat ini adalah baik bila dibuatkan kandang khusus anak ayam.
- Bila PLN mati, maka gunakanlah lampu minyak (lampu teplok), tempatkan sedemikian rupa sehingga panasnya (bukan asapnya!) dapat mengalir kedalam box.
Anda bisa memberi pakan daun genjer atau daun pepaya. daun genjer ini banyak sekali kita jumpai di sawah. tumbuh liar seperti enceng gondok. bebek dan menthok suka sekali dengan daun ini. sementara daun pepaya bisa untuk jamu buat ayam kampung, bebek, dan menthok.
Sabtu, 15 Agustus 2009



